Hari Raya Idul Fitri selalu datang dengan suasana yang khas hangat, haru, sekaligus penuh harapan. Di tengah gema takbir yang berkumandang sejak malam hingga pagi, umat Islam berkumpul, bersujud, dan saling bersalaman. Lebaran bukan sekadar perayaan, tetapi momentum kembali kembali kepada fitrah, kepada hati yang bersih, dan kepada hubungan yang lebih baik dengan sesama, terutama dengan kedua orang tua.
Dalam khutbahnya di Masjid Hujan Assalam Kota Tarakan, Al-Ustadz Muhsin mengangkat tema sederhana namun begitu dalam maknanya: saling memaafkan dan berbakti kepada orang tua. Dua hal yang sering terdengar, tetapi dalam praktiknya tidak selalu mudah dilakukan.
Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, hubungan antarmanusia kerap tereduksi menjadi sekadar interaksi singkat. Kesibukan kerja, tekanan ekonomi, hingga derasnya arus digital membuat banyak orang tanpa sadar menjauh bukan hanya dari sesama, tetapi juga dari orang-orang terdekat yang paling berjasa dalam hidupnya.
Idul Fitri mengingatkan kita bahwa tidak ada manusia yang luput dari salah. Dalam relasi sosial, luka kecil bisa menumpuk menjadi jarak yang besar jika tidak diselesaikan. Maka tradisi saling memaafkan bukan sekadar formalitas tahunan, melainkan kebutuhan jiwa. Sebuah proses membersihkan hati agar kembali lapang.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
“…dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin Allah mengampunimu?” (QS. An-Nur: 22)
Ayat ini bukan hanya seruan, tetapi juga ajakan untuk melihat lebih dalam: memaafkan orang lain sejatinya adalah jalan untuk mendapatkan ampunan Allah. Dalam konteks kehidupan hari ini, memaafkan bisa berarti meredam ego, mengalah dalam perdebatan, atau sekadar berani memulai kembali hubungan yang sempat renggang.
Namun, ada satu hubungan yang sering luput dari perhatian di tengah hiruk pikuk kehidupan: hubungan dengan orang tua.
Dalam khutbah tersebut, Al-Ustadz Muhsin mengingatkan bahwa berbakti kepada orang tua bukan hanya kewajiban moral, tetapi juga jalan keberkahan hidup. Di tengah fenomena banyaknya anak yang merantau, sibuk bekerja, atau bahkan terjebak dalam rutinitas digital, komunikasi dengan orang tua seringkali menjadi hal yang tertunda.
Padahal, dalam Islam, ridha Allah sangat erat kaitannya dengan ridha orang tua. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW:
“Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua, dan murka Allah tergantung pada murka orang tua.” (HR. Tirmidzi)
Pesan ini terasa relevan di masa kini. Tidak sedikit orang yang berusaha keras mencari kesuksesan di luar sana, namun lupa bahwa doa orang tua adalah salah satu kunci yang tidak terlihat, tetapi sangat menentukan arah kehidupan.
Berbakti kepada orang tua tidak selalu berarti hal besar. Terkadang, hal sederhana seperti menelpon, mendengarkan cerita mereka, atau sekadar hadir di tengah mereka, sudah menjadi bentuk kasih sayang yang sangat berarti.
Idul Fitri menjadi momen terbaik untuk memulai kembali. Mungkin ada kata yang belum sempat terucap, ada maaf yang masih tertahan, atau ada rasa sayang yang belum tersampaikan. Semua itu bisa dimulai hari ini, tanpa harus menunggu waktu yang “sempurna”.
Dakwah Islam yang disampaikan dalam khutbah ini terasa membumi karena tidak berbicara tentang hal-hal yang jauh dari kehidupan, tetapi justru menyentuh realitas yang kita alami sehari-hari. Islam hadir bukan untuk mempersulit, melainkan untuk menjadi solusi menenangkan hati, memperbaiki hubungan, dan mengarahkan hidup agar lebih bermakna.
Lebaran bukan hanya tentang pakaian baru atau hidangan istimewa, tetapi tentang hati yang diperbarui. Tentang keberanian untuk mengakui kesalahan, kerendahan hati untuk meminta maaf, dan keikhlasan untuk memaafkan.
Mungkin kita tidak bisa mengubah masa lalu, tetapi kita selalu punya kesempatan untuk memperbaiki hari ini.
Di akhir khutbahnya, Al-Ustadz Muhsin mengajak jamaah untuk tidak menjadikan Idul Fitri sebagai momen sesaat, tetapi sebagai titik awal perubahan. Perubahan yang tidak harus besar, tetapi konsisten dalam sikap, dalam ucapan, dan dalam cara kita memperlakukan orang lain, terutama orang tua.
Kini, pertanyaannya kembali kepada kita masing-masing: setelah Ramadhan berlalu dan Idul Fitri tiba, apa yang benar-benar berubah dalam diri kita?
Apakah hati kita lebih lembut? Apakah kita lebih mudah memaafkan? Atau justru kita kembali pada kebiasaan lama tanpa refleksi?
Idul Fitri adalah kesempatan, bukan jaminan. Ia memberi ruang bagi kita untuk menjadi lebih baik, tetapi keputusan tetap ada di tangan kita.
Semoga di hari yang fitri ini, kita tidak hanya saling memaafkan di lisan, tetapi juga benar-benar membersihkan hati. Semoga hubungan kita dengan orang tua semakin hangat, penuh kasih, dan diberkahi.
Dan semoga langkah kita ke depan menjadi lebih ringan, karena hati tidak lagi dipenuhi beban.
Bagi Anda yang ingin terus mendapatkan inspirasi dan refleksi kehidupan yang menenangkan, jangan ragu untuk membaca artikel-artikel lainnya di Pikiran Rakyat Digital. Karena di tengah derasnya arus informasi, kita semua tetap membutuhkan ruang untuk merenung agar hidup tidak hanya berjalan, tetapi juga bermakna.

