Tarakan – Ketenangan hidup tidak ditentukan oleh sedikit atau banyaknya masalah yang dihadapi seseorang. Sebaliknya, ketenangan lahir dari hati yang memiliki ketergantungan penuh kepada Allah SWT. Pesan inilah yang menjadi inti Kajian dan Talkshow bertajuk “Ketenangan Hati dalam Ketergantungan Total kepada Allah” yang diselenggarakan oleh Masjid Hujan Assalam pada Sabtu (6/6/2026).
Kegiatan yang menghadirkan Ust. Juanda, S.Pd., M.Pd. selaku Koordinator Divisi Pembinaan PPA Tarakan tersebut berlangsung khidmat dan diikuti oleh jamaah dari berbagai kalangan. Dalam penyampaiannya, beliau mengajak jamaah untuk kembali memahami bahwa akar ketenangan bukan terletak pada kondisi dunia yang sempurna, melainkan pada hati yang dekat dengan Allah SWT.
Mengawali kajiannya, Ust. Juanda membacakan firman Allah SWT dalam Surah Ar-Ra’d ayat 28:
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
Menurut beliau, ayat ini menegaskan bahwa kedekatan dengan Allah merupakan solusi utama atas berbagai kegelisahan, kecemasan, dan tekanan hidup yang dialami manusia. Banyak orang berusaha memperbaiki keadaan di luar dirinya, padahal persoalan terbesar justru berada di dalam dirinya sendiri.
“Masalah terbesar bukanlah yang terjadi di luar sana, tetapi apa yang terjadi di dalam hati kita,” ungkapnya.
Beliau kemudian mengingatkan jamaah tentang pentingnya menjaga hati sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
“Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Jika segumpal daging itu baik, maka baiklah seluruh tubuhnya, dan jika segumpal daging tersebut buruk, maka buruklah seluruh tubuhnya. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis tersebut menunjukkan bahwa kualitas hidup seseorang sangat dipengaruhi oleh kondisi hatinya. Ketika hati baik, maka pikiran, perkataan, dan perbuatannya pun akan baik. Sebaliknya, ketika hati rusak, maka seluruh kehidupannya akan ikut terdampak.
Dalam pemaparannya, Ust. Juanda menjelaskan bahwa salah satu penyebab terbesar kegelisahan manusia adalah keinginan untuk mengendalikan segala sesuatu. Manusia sering merasa harus memastikan semua berjalan sesuai rencana, padahal tidak semua hal berada dalam kendalinya.
Beliau menyebut bahwa titik balik kehidupan seseorang terjadi ketika ia menyadari satu hal penting:
“Aku tidak mampu mengendalikan semua hal, tetapi Allah mampu.”
Kesadaran inilah yang melahirkan sikap tawakal, ridha, dan ketenangan. Ketika seorang hamba memahami bahwa Allah adalah sebaik-baik pengatur kehidupan, maka ia tidak lagi terbebani oleh hal-hal yang berada di luar kemampuannya.
Ust. Juanda juga mengajak jamaah untuk meyakini bahwa takdir yang sedang dijalani saat ini merupakan takdir terbaik yang Allah pilihkan. Meski terkadang sulit dipahami, setiap ketentuan Allah pasti mengandung hikmah dan kebaikan bagi hamba-Nya.
Dalam pembahasan mengenai rahasia ketenangan, beliau mengutip Surah Fatir ayat 15 yang menjelaskan bahwa seluruh manusia adalah makhluk yang sangat membutuhkan Allah, sedangkan Allah Maha Kaya dan tidak membutuhkan siapa pun.
Kesadaran bahwa manusia adalah hamba yang lemah dan Allah adalah tempat bergantung akan menghadirkan ketenangan yang tidak dapat diberikan oleh dunia.
Lebih lanjut, beliau memaparkan beberapa tanda hati yang benar-benar bergantung kepada Allah, yaitu:
Pertama, banyak berdzikir. Hati yang dekat kepada Allah akan senantiasa mengingat-Nya dalam berbagai keadaan.
Kedua, mudah bersyukur. Sebagaimana firman Allah dalam Surah Ibrahim ayat 7, Allah akan menambah nikmat bagi orang-orang yang bersyukur.
Ketiga, sabar ketika diuji. Allah memerintahkan hamba-Nya untuk meminta pertolongan dengan sabar dan shalat sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-Baqarah ayat 153.
Keempat, tidak takut secara berlebihan terhadap masa depan. Sebab ia yakin bahwa rezeki, jodoh, kesehatan, dan seluruh urusannya berada dalam genggaman Allah SWT.
Sebagai bekal praktis bagi jamaah, Ust. Juanda membagikan lima langkah sederhana untuk meraih ketenangan hati dalam kehidupan sehari-hari:
- Memperbanyak dzikir.
- Menjaga kualitas shalat.
- Memperbanyak doa.
- Belajar ridha terhadap ketetapan Allah.
- Bertawakal setelah melakukan ikhtiar terbaik.
Di penghujung kajian, beliau menyampaikan pesan yang menyentuh hati seluruh peserta.
“Jika Allah bersama kita, maka kegagalan tidak akan menghancurkan kita, kehilangan tidak akan mematahkan kita, dan ujian tidak akan membuat kita putus asa.”
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa ketenangan sejati bukan berasal dari hilangnya masalah, melainkan dari keyakinan bahwa Allah selalu membersamai setiap langkah hamba-Nya.
Kajian yang berlangsung hingga malam hari itu ditutup dengan sesi tanya jawab yang interaktif. Para jamaah tampak antusias mengikuti seluruh rangkaian acara dan berharap kajian-kajian serupa dapat terus dilaksanakan sebagai sarana memperkuat keimanan dan mempererat ukhuwah Islamiyah.
Melalui kajian ini, Masjid Hujan Assalam kembali menegaskan komitmennya untuk menghadirkan ruang pembinaan umat yang tidak hanya menambah wawasan keislaman, tetapi juga membantu masyarakat menemukan ketenangan dan kekuatan spiritual dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

