Suasana Hari Raya Idul Fitri tahun ini terasa berbeda di tengah masyarakat. Dipimpin oleh Ustadz Egra, tradisi silaturahmi dengan berkunjung dari rumah ke rumah warga berlangsung lebih meriah dan penuh kehangatan. Kegiatan ini dilaksanakan pasca Idul Fitri dengan menyambangi sejumlah tokoh masyarakat dan warga, mulai dari rumah Pak Nurdin hingga para ustadz setempat, sebagai bentuk mempererat ukhuwah Islamiyah.
Pagi itu, langkah kaki rombongan silaturahmi terasa ringan namun penuh makna. Dimulai dari rumah Pak Nurdin, suasana kekeluargaan langsung terasa. Tawa kecil, senyum hangat, dan jabat tangan yang tulus menjadi pemandangan yang mengisi setiap sudut ruang.
Perjalanan berlanjut ke rumah Pak Tahiruddin yang dikenal sebagai imam masjid setempat kemudian ke kediaman Pak Alika, Di setiap rumah yang dikunjungi, rombongan disambut dengan ramah, bahkan tak jarang hidangan khas lebaran menjadi pelengkap suasana kebersamaan.
“Alhamdulillah, tahun ini terasa lebih hidup. Banyak yang datang, saling menyapa, dan benar-benar meluangkan waktu, untuk berkunjung bersilaturahmi di rumah-rumah warga”
Tidak hanya tokoh masyarakat, rombongan juga bersilaturahmi ke Bunda Hariati serta para tokoh agama seperti Ustadz Alif, Ustadz Rezky, Ustadz Intan, Ustadz Ahmad Nur, dan Ustadz Fandi. Setiap kunjungan bukan sekadar formalitas, melainkan menjadi momen mempererat hubungan yang mungkin sempat renggang karena kesibukan masing-masing.
Ustadz Egra dalam salah satu kesempatan menyampaikan bahwa silaturahmi bukan hanya tradisi, tetapi bagian dari ajaran Islam yang memiliki nilai besar.
“Silaturahmi ini bukan sekadar datang dan makan bersama. Ini tentang membuka hati, memaafkan, dan memperbaiki hubungan antar sesama,” ungkapnya.
Makna Silaturahmi dalam Islam
Dalam Islam, silaturahmi memiliki kedudukan yang sangat penting. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung silaturahmi.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Ayat Al-Qur’an juga menegaskan pentingnya menjaga hubungan antar sesama:
“Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan peliharalah hubungan silaturahmi.”
(QS. An-Nisa: 1)

Dari sini terlihat bahwa silaturahmi bukan hanya soal hubungan sosial, tetapi juga bagian dari ibadah yang membawa keberkahan dalam hidup.
Nilai Sosial yang Terbangun
Tradisi berkunjung dari rumah ke rumah ini menghadirkan nilai sosial yang begitu kuat. Di tengah dunia yang semakin individualistis, momen seperti ini menjadi ruang untuk:
- Saling memaafkan secara langsung
- Menguatkan rasa persaudaraan
- Menghapus kesalahpahaman yang mungkin pernah terjadi
“Kadang kita cuma saling kirim pesan lewat WhatsApp. Tapi ketika bertemu langsung, rasanya beda. Lebih hangat, lebih tulus,” ujar Ustadz Wahyu
Hal senada disampaikan oleh Ustadz Alif, yang melihat silaturahmi ini sebagai cara sederhana namun berdampak besar.
“Kalau ini terus dijaga, insyaAllah masyarakat akan lebih rukun dan damai.”
Tradisi yang Mulai Bergeser di Era Digital
Di era digital saat ini, tradisi silaturahmi perlahan mengalami perubahan. Banyak orang merasa cukup dengan mengirim pesan singkat atau ucapan melalui media sosial.
Memang praktis, namun ada sesuatu yang hilang yaitu kedekatan emosional.
Silaturahmi fisik memberikan:
- Sentuhan langsung (jabat tangan, pelukan)
- Ekspresi tulus yang tidak tergantikan
- Kehadiran yang bermakna
Kegiatan yang dipimpin oleh Ustadz Egra ini seakan menjadi pengingat bahwa teknologi tidak seharusnya menggantikan sepenuhnya nilai-nilai kebersamaan.
Silaturahmi bukan sekadar tradisi tahunan, tetapi jembatan hati yang menghubungkan satu sama lain. Di tengah kesibukan dan perubahan zaman, menjaga tradisi ini menjadi tantangan sekaligus tanggung jawab bersama.
Momen yang terjadi tahun ini membuktikan bahwa kebersamaan masih bisa dirawat, selama ada niat dan kepedulian.

